Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sang-gup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguh-nya Allah Maha Kaya (tidak memer-lukan sesuatu) dari semesta alam. [QS. Ali Imraan: 97]
Alhamdulillah, waktu Kebe-rangkatan calon jama’ah haji sudah tiba. Melalui syariat Ibadah haji ini, Allah SWT banyak memberikan i'tibar-i'tibar atau pelajaran yang sangat berharga bagi umat manusia. Dari sejumlah rukun dan rang-kaian kegiatan ibadah haji, apabila dicermati secara cerdas dan mendalam, sesungguhnya mengandung makna filosofi yang sangat luas dan penting bagi kehidupan umat manusia, di dalamnya terdapat mutiara hikmah yang amat berharga.
Makna filosofis yang bagai-manakah yang dapat diperoleh dari rangkaian ibadah haji itu. Seberapa banyak kita dapat menggali makna filosofis dari
rangkaian ibadah haji ini?
- Berpakaian Ihram
Seseorang yang melaksa-nakan rangkaian ibadah haji pada batas-batas tertentu (miqot), ia wajib menggunakan pakaian ihram yang terdiri dari dua lem-bar kain putih yang dililitkan pada tubuh mereka. Filosofi pakaian ihram ini menunjukkan, bahwa seorang manusia itu di hadapan Allah SWT, adalah lemah dan tiada memiliki sesuatu apa pun terkecuali atas pembe-rian Allah SWT. Pakaian dua lembar kain putih yang dikena-kannya, melambangkan betapa miskinnya manusia di hadapan Allah SWT.
- Thawaf
Dalam pelaksanaannya dilakukan dengan cara berputar mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali. Ka'bah dalam Islam pada dasarnya melambangkan ajaran tauhid, karena pada Ka'bah lah seluruh umat Islam diperintahkan untuk mengha-dapkan wajahnya disaat ia shalat, yaitu menghadap kepada yang satu (tauhid).
- Sa'i
Yang dalam pelaksanaan-nya dilakukan dengan cara lari-lari kecil antara bukit Shofa dan bukit Marwa. Dari sisi historis, ibadah Sa'i ini mengisahkan perjuangan seorang lbu "Siti Hajar" istri Nabi Ibrahim as, mencari air minum untuk di berikan pada Ismail as. Sa'i ini melambangkan tentang kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Seorang ibu yang tidak merasa letih dan lelah, serta putus asa demi mencari setetes air untuk anaknya, sampai Siti Hajar rela berlari bolak-balik sampai tujuh kali antara Shofa dan Marwa.
- Wukuf di Arafah
Yang pelaksanaannya se-luruh umat manusia dari segala penjuru dunia berkumpul di tempat yang lapang di Padang Arafah. Wukuf di Arafah oleh banyak Mufasir dinilai sebagai miniatur ber-kumpulnya manusia di Padang mahsyar nanti. Di tempat inilah digambarkan, bahwa kelak manusia di seluruh penjuru dunia akan berdesak-desakan dan men-jalani antrean panjang pada saat menanti hisab amal dan Pengadilan Allah Rabbul Izzati."Manusia itu pada dasarnya berke-dudukan sama bagaikan gerigi sebuah sisir. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang bukan Arab, yang membedakan mereka adalah derajat ketakwaannya kepada Allah."
- Melontar Jumroh
Yang dalam praktiknya dilakukan dengan cara melontarkan batu kerikil pada sebuah tempat semacam tugu, yang merupakan gambaran wujud syaitan laknatullah. Prosesi melontar jumroh ini, melambangkan agar umat manusia mampu mengusir dan melempar jnafsu-nafsu jahat yang me-nguasai dirinya dan
menghilangkan godaan syetan.
Semoga seluruh jama’ah calon haji yang berangkat tahun ini diberikan kesehatan, kemudahan dan keselama-tan selama menjalani rangkaian ibadah haji dan mampu meraih predikat haji
mabrur. Amin Ya Rabbal Alamin.