Sesungguhnya kita adalah kaum yang Allah mulia-kan dengan Islam. Ketika kita mencari kemuliaan bukan dengan yang Allah telah muliakan kita (Islam), maka Dia akan membuat kita hina.” (Riwayat al-Hakim).
Secara kodrat, manusia sebenarnya telah diciptakan sebagai makhluk yang paling mulia. Manusia diberi akal pikiran sehingga bisa mengatasi segala masalah yang menghadang sehingga bisa selalu bertahan dalam situasi apapun. Sayangnya, kemudian banyak orang yang lupa bahwa semua kemuliaan yang ada pada dirinya itu semata-mata dari Allah SWT. Kita manusia tidak puya sejengkal pun hak untuk menyombongkan diri. Bahkan ada juga yang lebih parah, yaitu mereka yang menganggap kemuliaan hanya dipandang dengan harta. Jadi, sepanjang hidupnya dia hanya mencari-cari harta, menumpuk-numpuknya dengan segunung harapan hidupnya akan mulia. Kemuliaan sejatinya hanya dekat dengan Allah SWT. Tak ada seorangpun di dunia ini yang akan mampu membuat kita hina sepanjang Allah SWT menjaga kia tetap mulia. Sebaliknya, meskipun seisi dunia mengagung-agungkan kita, jika Allah SWT manila kita hina, tak akan ada yang patut kita banggakan dari diri kita.
Rasululah SAW adalah orang yang mulia. Kemuliaan itu diperolehnya karena iman dan takwa yang teguh tertancap di dalam dada. Iman dan takwa yang tidak tunduk oleh cemoohan dan hinaan. Tidak takhluk permu-suhan dan tak tekecoh oleh rayuan dan godaan. Tidak goyah oleh kehidupan masa lalu sebagai anak yatim yang hidup di kalangan Badui, dipungut oleh sang kakek, kemudian sang paman, hidup sebagai penggembala kambing. Semua itu bukan penghalang bagi beliau untuk tetap hidup mulia jauh dari perkara-perkara hina dan sia-sia. Islam adalah agama yang dipeluknya. Iman berarti dalam arti keyakinan hati, dan takwa dalam arti amalan menunaikan perintah dan menjauhi larangan. Dengan Islam iman dan takwa itulah seseorang mendaki jalan kemuliaan. Semakin jauh ia meniti tangga itu maka semakin tinggi derajat kemuliaannya. Berikut adalah ciri ciri orang yang mulia:
Memaafkan Kesalahan Orang
Memafkan bukan karena tidak sanggup untuk membalas. Namun memaafkannya di saat ia kuasa untuk menjatuhkan huku-man balasan. Kita tahu bahwa Rasulullah saw dan para shaha-batnya diusir dari rumah dan kampung halaman mereka. Na-mun saat Rasulullah saw mengu-asai mereka dengan futuhnya Mekkah ke tangan kaum muslimin Rasulullah saw bukannya mem-balas permusuhan dan kebencian mereka dengan pembalasan yang setimpal. Justru yang diucapkan oleh Beliau saw adalah apa yang diucapkan Yusuf AS kepada saudara-saudaranya yang dulu pernah memasukkannya ke dalam sumur.
Berbuat Mulia
Terutama terhadap orang-orang yang lemah. Kaum hawa adalah kaum lemah dibanding kaum adam. Maka sudah sepan-tasnya jika kaum laki-laki berke-wajiban mengayomi, melindungi dan memuliakan kaum wanita. Mereka adalah ibu, anak, saudari, bibi, nenek, cucu dari kaum laki-laki. Boleh jadi diantara mereka adalah guru atau murid kita juga. Maka Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seseorang memuliakan wanita melainkan ia adalah orang yang mulia. Dan tidaklah seseorang menghinakan kaum wanita melain-kan ia adalah orang yang tercela.”
Orang yang mulia menghin-darkan diri dan berpaling dari orang-orang bodoh dan kaum musyrikin. Ia berteman hanya dengan orang-orang yang shaleh dan beriman. Dari itu Rasulullah SAW dipe-rintah berpaling dari mereka yang jahil dan musyrik. Beliaupun juga bersabda: “Seseorang itu berada dalam agama teman dekatnya…” Beliau hijrah pun untuk terpisah dengan orang-orang jahiliyah dan musyrik Mekkah ke negerinya orang-orang beriman di Madinah.
Bershodaqoh
Sikap dermawan disebut sebagai al karom. Orang yang gemar bersedekah di sebut al kariim. Al kariim itu sendiri bermakna orang yang mulia juga. Dari itu adalah suatu hal yang tak terpisahkan jika Rasulullah SAW adalah orang termulia, maka beliaupun adalah orang yang paling dermawan pula (ajwadannaas). Terlebih-lebih di saat bulan Ramadhan. Di sisi lain beliaupun makan dari hasil kerja sendiri, zuhud terhadap apa yang ada pada manusia, tamak terhadap apa yang di sisi Allah SWT, haram menerima sedekah, halal menerima hadiah. Itulah sebaik-baik teladan. Karena tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Sedekah diberikan oleh yang berada untuk yang papa. Adapun hadiah, maka hanya diberikan untuk orang yang berprestasi lagi mulia.